Menyambut Hari Raya ‘Idul Adha

Salah satu hari raya dalam Islam, yakni hari raya ‘Idul Adha, kembali akan hadir di tengah-tengha kita. Berikut ini srba-serbi tentang idul adha.


A.      Hukumnya

Menurut pendapat yang rajih (kuat) dan terpilih, sholat ‘idul adha adalah wajib hukumnya, baik bagi laki-laki maupun wanita. Dalilnya adalah hadits Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang sedang dalam pingitan (untuk sholat ‘id)” [Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah, hal. 150 dan Ahkamul ‘Idain fi Sunnatil Muthohharoh]

Sebagian lagi berpendapat hukumnya fardhu kifayah, sebagaimana pendapat Syaikh Shalih as-Sadlan dalam Risalatu fi Fiqhil Muyassar hal. 48].

B.       Waktunya

Waktu sholat ‘id adalah semenjak matahari naik setinggi tombak hingga tergelincir ke arah barat. Namun yang sunnah adalah melakukannya di awal waktu, agar kaum muslimin bisa segera menyembelih hewan kurban mereka. [Minhajul Muslim, hal. 183, Risalatu fi Fiqhil Muyassar hal. 48, ad-Darori al-Mudhiyah hal. 106,109].

C.      Sholat di lapangan

Sholat ‘id adalah di tanah lapang, bukan di masjid. Hal ini datang dari banyak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi was Sallam, diantaranya:

Dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Rasūlullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada hari Adhha atau Fithri ke musholla (tanah lapang)…” [HR. al-Bukhari]

Kecuali apabila dalam keadaan darurat semisal hujan, maka boleh dilakukan di dalam masjid.

D.      Sifat sholat ‘Id

Sholat ‘id terdiri dari dua rakaat dengan 11 takbir, yaitu 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Sholat ‘id adalah sholat jama’ah yang dilakukan di tanah lapang tanpa ada adzan dan iqomah. Imam disunnahkan membaca surat al-A’la pada rakaat pertama dan al-Ghasiyah pada rakaat kedua, atau surat Qaf dan Waqtarobat. [Lihat al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah, hal. 151-152].

Setelah sholat, imam atau khathib naik ke atas mimbar berkhutbah. Sifat khuthbah ‘id yang rajih adalah tanpa diselingi duduk ringan sebagai pemisah dua khuthbah seperti khuthbah jum’at. Ini adalah pendapat yang terpilih. Namun, syaikh Shalih bin Ghanim as-Sadlan merajihkan sifat khutbah ‘id sama dengan khuthbat jum’ah [Lihat Risalatu fi Fiqhil Muyassar hal. 49], demikian pula dengan Syaikh Abū Bakr al-Jaza`iri [Lihat Minhajul Muslim, hal. 172-173].

E.       Takbir ‘Idul Adha

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berdzikirlah menyebut nama Alloh dalam beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. al-Baqoroh : 203)

Waktunya semenjak dari shubuh hari ‘Arofah (10 Dzulhijjah) hingga ashar hari tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah) berdasarkan hadits shahih dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ūd radhiyallahu ‘anhum [lihat al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 153-154].

Takbir dilakukan dengan keras terutama di jalanan menuju ke tanah lapang, dilakukan setiap selesai melakukan sholat dan setiap waktu kapan saja semenjak hari ‘Arofah hingga akhir hari tasyriq [lihat Majmu’ al- Fatawa 24/220, Subulus Salam II/71-71 dan Ahkamul ‘Idain].

Adapun shighat (lafal) takbir yang shahih datang dalam beberapa riwayat, diantaranya adalah lafal yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ūd radhiyallahu ‘anhu:

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

“Allah Maha Besar – Allah Maha Besar – Tiada Ilah yang haq untuk disembah kecuali Allah – Dan Allah Maha Besar – Allah Maha Besar – dan hanya milik Allahlah segala pujian.” [HR. Ibnu Abi Syaibah II/17 secara shahih mauquf]

Diantaranya pula adalah lafal dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد الله أكبر وأجل الله أكبر على ما هدانا

“Allah Maha Besar – Allah Maha Besar – Allah Maha Besar – hanya milik Allahlah segala pujian – Allah Maha Besar dan Maha Agung – Allah Maha Besar atas petunjuk-Nya kepada kita.” [HR. al-Baihaqi III/315].

Adapun lafal takbir yang sering dibaca di negeri kita, yaitu:

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثبرا وسبحن الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده

وصدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحدة لا إله إلا الله ولا

…نعبد إلا إياه مخلصين له الدين

Maka sesungguhnya lafal ini tidak pernah ditemukan di dalam satupun hadits baik yang marfū’ maupun yang maudhū’. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita mengada-adakan sesuatu yang telah ada tuntunannya.

F.       Adab (Etika) dan sunnah-sunnah ‘Idul Adha

  1. Mandi
  2. Berpakaian dengan pakaian yang terbaik dan berparfum
  3. Mengakhirkan makan hingga setelah sholat ‘id atau memakan sembelihannya.
  4. Berjalan kaki ke tanah lapang dan menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang
  5. Bertakbir sebagaimana penjelasannya telah berlalu di atas.
  6. Mendengarkan khutbah dengan baik dan seksama
  7. Mengucapkan tahni`ah (selamat) dengan tahni`ah yang ma’tsur (memiliki pijakan riwayat), seperti Taqobbalallohu minna wa minkum

G.      Kekeliruan-kekeliruan pada hari raya ’Idul Adha

  1. Mencukur jenggot yang dilakukan oleh kaum lelaki,  padahal syariat dan pendapat yang terkuat, mencukur jenggot adalah haram hukumnya.
  2. Bertabarruj (bersolek) yang dilakukan oleh kaum wanita dan membuka aurat mereka di hadapan kaum pria yang bukan mahramnya.
  3. Berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya dan ber-iktilath (bercampur baur) antara pria dan wanita bukan mahram.
  4. Ber-tasyabbuh (meniru orang kafir), baik di dalam berpakaian, berpesta hari raya, dan semisalnya
  5. Mendengarkan musik-musik yang diharamkan. Ketahuilah, yang diperbolehkan pada hari raya hanya duff (rebana).
  6. Menghambur-hamburkan harta (tabdzir).
  7. Mengkhususkan ziarah kubur pada saat ’idul fitri ataupun ’idul adha.
  8. Meninggalkan sholat ’id tanpa ada alasan yang dibenarkan.
  9. Tidak mandi dan memakai pakaian yang baik untuk sholat ’id.
  10. Memakan makanan sebelum melaksanakan sholat ’idul adhha.
  11. Pulang melewati jalan yang sama ketika berangkat.
  12. Pergi ke tanah lapang tanpa ada udzur dengan kendaraan.
  13. Tidak bertakbir.
  14. Bertakbir dengan takbir-takbir yang tidak dituntunkan atau tidak ada dalilnya.
  15. Adzan dan Iqomah untuk sholat ’id.
  16. Takbir berjama’ah secara serempak dan dipimpin.
  17. Sholat tahiyatul masjid di tanah lapang, atau melakukan sholat sunnah sebelum dan setelah sholat ’id.
  18. Bermain petasan dan menganggu kaum muslimin.
  19. dan lain-lain.

Sumber: Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha, oleh Abū Salmâ al-Atsarî

Tags:

DKM

Masjid Jami' Al 'Ittihad Citra Indah menerima zakat mal, infaq, shodaqoh, dan amal jariah lainnya. Hubungi DKM atau pengurus masjid:

  • Ketua DKM Bpk Teguh 08567789372 teguh@jpnn.com
  • Wakil Ketua Bpk Abisaid Chudri 08151621590
  • Bendahara Bpk Sugeng 08121306968
  • Sekretaris Bpk Deni Syahputra 08161879611
  • Bid. Umum Bpk Jamaluddin 081380103738

Lokasi

DKM masjidjami-alittihad-citraindah.com

© 2016 Masjid Jami Al Ittihad CitraIndah City. All Rights Reserved. Designed By JoomShaper